Adasaatnya juga alat musik tdk boleh digunakan, namun bukan secara total. Dalam MS 66 dikatakan bahwa: "Penggunaan alat musik tersebut secara instrumental tdk diizinkan dalam Misa Adven, Prapaskah, Trihari Suci, dan dalam ofisi serta misa arwah." Namun m asih diperkenankan: memainkan intro dan mengiringi umat atau paduan suara menyanyi. Namunketika syair lagu-lagu tentang Kristus dinyanyikan, kita dapat merasakan betapa besar pengaruhnya. Kita tidak dapat menutup mata tentang betapa besar peran paduan suara dalam liturgi Gereja. Karena itu kelompok paduan suara perlu menyadari betapa penting peran ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum tampil sambil Ketikadi paroki-paroki telah menguat kesadaran tentang perlunya partisipasi aktif umat dalam berliturgi, koor atau kerap juga disebut paduan suara gerejani tidak akan pernah menghilang bahkan akan muncul lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh umat -anak-anak, omk, dan dewasa- akan berusaha untuk menunjukkan partisipasi aktifnya yang menjadikan liturgi semakin indah dan agung sebagai karya Allah 2Lima Sekawan Petualangan Di Laut Sunyi Lima Sekawan -- Petualangan Di Laut Sunyi Novel Lima Sekawan Petualangan Di Laut Sunyi Dan rupanya tidak kenal kasihan! Philip dijunjung, lalu Karenaitu, pada 1930, lagu itu dilarang dan tak boleh dinyanyikan dalam kesempatan apa pun, Alasan pemerintah kolonial: lagu tersebut dapat "mengganggu ketertiban dan keamanan." Selaku pencipta, Supratman tak luput dari ancaman. Ia sempat ditahan dan diinterogasi soal maksud lirik "merdeka, merdeka, merdeka". Tetapi kekangan itu cuma sebentar. PartiturLagu Gereja, Paduan Suara Gereja, Nyanyian Gereja, buku kor, Buku Paduan suara Jogja, Bantul, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Lagu dengan tema Kasih ini bisa dinyanyikan untuk minggu biasa atau perayaan lain, tema yang diangkat merupakan tema umum. Tidak semua nyanyian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, karena sering HwDePQP. “Ada terang dalam jiwaku,” Eliza Hewitt menulis, “lebih indah cemerlang dari s’gala cah’ya di bumi; Yesuslah sang Terang”1 Dengan binar dalam setiap nadanya, lagu Kristen tua yang menakjubkan ini benar-benar tidak mungkin dinyanyikan tanpa tersenyum. Tetapi hari ini saya ingin mengangkat keluar konteks satu baris saja darinya yang dapat membantu pada hari-hari ketika kita merasa sulit untuk bernyanyi atau tersenyum dan “saat-saat bahagia penuh damai” tampaknya tidak “dialami.” Jika untuk sesaat Anda tidak mampu menggemakan melodi riang yang Anda dengar datang dari orang lain, saya meminta Anda untuk berpegang teguh pada baris dalam nyanyian pujian ini yang meyakinkan, “Pasti Dia akan mendengar lagu dari kalbu [Anda].”2 Di antara kenyataan yang kita hadapi sebagai anak-anak Allah hidup di dunia yang terjatuh adalah bahwa sejumlah hari memang sulit, hari-hari ketika iman kita dan keuletan kita diuji. Tantangan-tantangan ini dapat datang karena suatu kekurangan dalam diri kita, suatu kekurangan dalam diri orang lain, atau suatu kekurangan saja dalam kehidupan, tetapi apa pun alasannya, kita mendapati itu dapat merampas dari diri kita nyanyian yang begitu ingin kita nyanyikan dan membuat kelam janji adanya “damai dalam jiwa [kita]”3 yang Eliza Hewitt rayakan dalam salah satu baitnya. Jadi apa yang kita lakukan dalam keadaan semacam itu? Satu cara, kita merangkul nasihat Rasul Paulus dan “mengharapkan apa yang tidak kita lihat 
 [dan] kita menantikannya dengan tekun.”4 Di saat-saat ketika melodi sukacita merosot di bawah kuasa pengutaraan kita, kita mungkin harus berdiri hening sesaat dan mendengarkan saja orang lain, menimba kekuatan dari kemegahan musik di sekitar kita. Banyak di antara kita yang “bermasalah dalam hal musik” telah mengalami kepercayaan diri kita ditingkatkan dan nyanyian kita diperbaiki dengan menempatkan diri kita di samping seseorang dengan suara yang lebih kuat dan pasti. Tentunya berikutnya adalah bahwa dalam menyanyikan nyanyian kekekalan, kita hendaknya berdiri sedekat mungkin secara manusiawi dengan Juruselamat dan Penebus dunia—yang tentu saja memiliki nada sempurna. Kita kemudian dapat memperoleh keberanian dari kemampuan-Nya untuk mendengar diamnya diri kita dan memperoleh harapan dari perantaraan kemesiasan-Nya dengan Bapa demi kita. Sesungguhnyalah “bila Tuhan di dekat” maka “bunga kasih karunia mekar b’ri semangat.”5 Pada hari-hari ketika kita merasa sedikit sumbang, agak sedikit kurang dari apa yang kita pikir kita lihat atau dengar dalam diri orang lain, saya ingin meminta kita, terutama para remaja Gereja, untuk mengingat adalah melalui rancangan ilahi bahwa tidak semua suara dalam paduan suara Allah adalah sama. Diperlukan keragaman—soprano dan alto, bariton dan bas—untuk menghasilkan musik yang berbobot. Meminjam lirik yang dikutip dari korespondensi ceria dua wanita Orang Suci Zaman Akhir yang hebat “Semua makhluk Allah mendapatkan tempat dalam paduan suara.”6 Ketika kita meremehkan keunikan kita atau mencoba untuk menyelaraskan dengan sosok umum yang dianggap ideal—yang didorong oleh budaya konsumen yang tidak terpuaskan dan diintensifkan oleh media sosial—kita kehilangan kekayaan nuansa dan warna nada yang Allah niatkan ketika Dia menciptakan dunia keragaman. Nah, ini bukanlah mengatakan bahwa semua dalam paduan suara ilahi tersebut dapat mulai saja menyanyikan oratoria pribadinya sendiri! Keragaman bukanlah suara hiruk-pikuk, dan paduan suara memang membutuhkan disiplin—untuk tujuan kita hari ini, Penatua Hales, saya ingin mengatakan kemuridan—tetapi begitu kita telah menerima lirik yang diungkapkan secara ilahi dan paduan orkestra harmonis yang digubah sebelum dunia ada, kemudian Bapa Surgawi kita senang kita bernyanyi dengan suara kita sendiri, bukan suara orang lain. Percayalah kepada diri Anda sendiri, dan percayalah kepada-Nya. Jangan merendahkan nilai Anda atau mencemari kontribusi Anda. Di atas segalanya, jangan meninggalkan peranan Anda dalam paduan suara tersebut. Mengapa? Karena Anda unik; Anda tak tergantikan. Hilangnya bahkan satu suara meredupkan setiap penyanyi lainnya dalam paduan suara fana kita yang hebat ini, termasuk hilangnya mereka yang merasa kurang diterima di masyarakat atau di Gereja. Tetapi bahkan sewaktu saya mendorong Anda semua untuk beriman mengenai nyanyian yang mungkin sulit dinyanyikan, saya dengan serta merta mengakui bahwa untuk alasan-alasan yang berbeda saya bergumul dengan jenis nyanyian lainnya yang seharusnya—tetapi belum—dinyanyikan. Ketika saya melihat ketidaksetaraan ekonomi yang mencolok di dunia, saya merasa sedikit bersalah bernyanyi dengan Ny. Hewitt mengenai “berkat yang dicurahkan-Nya, tuk janji di surga.”7 Bagian refrain itu tidak dapat dinyanyikan dengan sungguh-sungguh, sepenuhnya, sampai kita telah secara terhormat mengurus yang miskin. Kekurangan ekonomi merupakan kutukan yang terus mengumbar kutukan, tahun demi tahun dan generasi demi generasi. Itu merusak tubuh, melemahkan semangat, mencederai keluarga, dan menghancurkan mimpi. Jika kita bisa melakukan lebih banyak untuk mengurangi kemiskinan, seperti Yesus berulang kali perintahkan agar kita lakukan, mungkin sebagian dari yang kurang beruntung di dunia dapat bersenandung beberapa nada dari “Ada Terang dalam Jiwaku,” mungkin untuk pertama kalinya dalam kehidupan mereka. Saya juga merasa adalah sulit untuk menyanyikan lirik yang gembira dan bersemangat ketika begitu banyak di sekitar kita menderita dari penyakit mental dan emosional atau keterbatasan penyakit yang melemahkan. Sayangnya, beban ini terkadang tetap bertahan terlepas dari upaya-upaya berani dari banyak jenis pemelihara, termasuk anggota keluarga. Saya berdoa kita tidak akan membiarkan anak-anak Allah ini menderita dalam keheningan dan bahwa kita akan diberkahi dengan kemampuan-Nya untuk mendengarkan lagu-lagu yang sekarang tidak dapat mereka nyanyikan. Dan kelak saya berharap sebuah paduan suara global yang hebat akan berharmoni melintasi segala garis ras dan etnik, memaklumkan bahwa senjata dan cercaan, kekerasan dan ucapan kebencian bukan cara untuk menangani konflik kemanusiaan. Deklarasi surga berseru kepada kita bahwa satu-satunya cara isu-isu rumit masyarakat selamanya dapat dipecahkan dengan memuaskan adalah dengan mengasihi Allah dan menaati perintah-perintah-Nya, dengan demikian membukakan pintu menuju suatu jalan yang langgeng dan menyelamatkan untuk saling mengasihi sebagai sesama. Nabi Eter mengajarkan bahwa kita hendaknya “berharap untuk dunia yang lebih baik.” Membaca pemikiran itu seribu tahun kemudian, Moroni yang penat dengan peperangan dan kekerasan memaklumkan bahwa “jalan yang lebih unggul” menuju dunia itu akanlah selamanya Injil Yesus Betapa kita bersyukur bahwa di tengah-tengah jenis tantangan ini muncul, dari waktu ke waktu, lagu lainnya yang kita dapati diri kita tidak dapat nyanyikan, tetapi untuk suatu alasan lain. Ini adalah ketika perasaan sedemikian dalam dan pribadi, bahkan sedemikian sakral, sehingga tidak dapat ataupun tidak bisa diungkapkan—seperti kasih Cordelia bagi ayahnya, yang mengenainya dia menyatakan, “Kasih saya 
 lebih berlimpah daripada lidah saya .
 Aku tak bisa mengangkat hatiku ke dalam mulutku.”9 Datang kepada kita sebagai sesuatu yang kudus, perasaan-perasaan ini tak terucapkan—tak terlukiskan secara rohani—seperti doa yang Yesus ucapkan untuk anak-anak orang Nefi. Mereka yang menjadi saksi akan peristiwa itu mencatat “Mata tidak pernah melihat, tidak juga telinga pernah mendengar 
 demikian besar dan menakjubkan seperti yang kami lihat dan dengar Yesus ucapkan kepada Bapa; 
 tidak ada lidah yang dapat mengucapkan, tidak juga ada yang dapat dituliskan oleh siapa pun, tidak juga hati manusia dapat memahami hal-hal yang demikian besar dan menakjubkan seperti yang kami lihat maupun juga dengar Yesus ucapkan.”10 Jenis momen yang kudus ini tetap tak terucapkan karena pengungkapan, bahkan seandainya itu mungkin, itu tampak seperti penodaan. Brother dan sister, kita hidup di dunia fana dengan begitu banyak nyanyian yang tidak dapat atau belum kita nyanyikan. Tetapi saya memohon kepada kita masing-masing untuk tinggal secara permanen dan setia dalam paduan suara, di mana kita akan dapat selamanya menikmati lagu itu yang paling berharga dari semuanya—“nyanyian kasih yang menebus.”11 Untungnya kursi untuk nomor lagu yang satu ini tidak terbatas. Ada ruang bagi mereka yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menjunjung budaya yang beragam, dan tinggal di berbagai lokasi. Ada ruang bagi yang lajang, yang menikah, keluarga besar, dan tanpa anak-anak. Ada ruang bagi mereka yang pernah memiliki keraguan mengenai iman mereka dan ruang bagi mereka yang masih ragu. Ada ruang bagi mereka dengan ketertarikan seksual yang berbeda. Singkatnya, ada tempat bagi semua orang yang mengasihi Allah dan menghormati perintah-perintah-Nya sebagai tongkat acuan berharga bagi perilaku pribadi, karena jika kasih Allah adalah melodi dari lagu kita bersama, pastinya pencarian umum untuk mematuhi Dia adalah keselarasan mutlak didalamnya. Dengan penekanan ilahi pada kasih dan iman, pertobatan dan rasa iba, kejujuran dan pengampunan, ada ruang dalam paduan suara ini bagi semua yang ingin berada di “Datanglah sebagaimana adanya dirimu,” seorang Bapa pengasih berkata kepada kita masing-masing, tetapi Dia menambahkan, “Jangan berencana untuk tetap seperti adanya dirimu.” Kita tersenyum dan mengingat bahwa Allah berketetapan untuk menjadikan dari diri kita lebih daripada apa yang kita pikir bisa kita capai. Dalam oratoria besar ini yang adalah rencana-Nya bagi permuliaan kita, semoga kita dengan rendah hati mengikuti tongkat pimpinan-Nya dan terus mengusahakan nyanyian yang tidak dapat kita nyanyikan, sampai kita dapat mempersembahkan “senandung tuk Raja [kita].”13 Maka suatu hari, sebagaimana nyanyian pujian yang sangat kita kasihi berbunyi Kita menyanyi bersama tent’ra surga, Hosana kepada Allah dan Domba! 
 
 Saat Yesus turun berata api!”14 Saya bersaksi bahwa jamnya akan tiba, bahwa Allah Bapa Kekal kita akan sekali lagi mengutus ke bumi Putra Tunggal-Nya, kali ini untuk mengatur dan memerintah sebagai Raja di Atas Segala Raja selama-lamanya. Saya bersaksi bahwa ini adalah Gereja-Nya yang dipulihkan dan adalah sarana untuk mendatangkan ajaran-ajaran dan tata cara-tata cara yang menyelamatkan dari Injil-Nya bagi seluruh umat manusia. Ketika pesan-Nya telah “menembus setiap benua [dan] mengunjungi setiap iklim,”15 Yesus sesungguhnya akan “[memperlihatkan] wajah-Nya yang tersenyum,”16 Akan ada pastinya terang kekal bagi jiwa kita hari itu. Untuk kedatangan jam yang dijanjikan itu saya berdoa dengan kerinduan, dalam nama Yesus Kristus, amin. Sebagian orang yang tidak menyadari jika musik juga dapat menjadi saluran pengiriman dan penerimaan pesan. Jika kita amati dengan seksama, musik yang kita lihat dan dengarkan sehari-hari banyak menyimpan simbol dan makna. Contoh sederhananya pada musik paduan suara. Ketika kita sebagai audiens sedang menyaksikan penampilan kelompok paduan suara, sudah tentu kita akan mendengarkan alunan musik dari lagu yang mereka nyanyikan. Itu artinya ada pesan penglihatan dan pesan suara yang disampaikan oleh kelompok paduan suara dan ada pesan penglihatan dan pesan suara yang diterima oleh penonton. Tetapi sering kali bentuk pesan implisit yang terkandung dalam musik paduan suara luput dari pengamatan penerima pesan karena pada prinsipnya pengiriman dan penerimaan pesan tidak hanya dari lagu yang mereka nyanyikan. Berikut ini adalah jenis-jenis objek penerimaan pesan yang dapat dijadikan saluran penerimaan dan pengiriman pesan lewat paduan suara. 1. Gerakan tangan. Seperti yang kita ketahui jika tiap kelompok paduan suara yang tampil di panggung umumnya terdapat seorang konduktor atau pemimpin paduan suara yang bertugas memimpin kelompok paduan suara. Ia memandu kelompok paduan suara dengan gerakan tangannya yang mampu mengirimkan pesan melalui instruksi kapan anggota kelompok paduan suara harus menyanyikan bagian lagu, serta memperbesar dan mengecilkan volume suara. 2. Ekspresi wajah. Jika anggota kelompok paduan suara menyanyikan sebuah lagu, mereka akan mengirimkan pesan lewat ekspresi wajah yang disesuaikan dengan lagu yang dinyanyikan. Apakah lagu dengan tema kebahagiaan, kesedihan, atau lagu perjuangan. 3. Pandangan mata. Pengiriman pesan lewat pandangan mata juga terjadi pada interaksi antara konduktor dengan anggota paduan suara yang umumnya terdiri dari 3 jenis suara atau lebih. Pandangan mata berperan untuk menegaskan anggota paduan suara bahwa ada kesalahan pada bagian yang dinyanyikan oleh anggota paduan suara. 4. Pakaian atau kostum. Ini adalah bentuk komponen atau medium visual yang mampu menafsirkan pesan non-verbal. Contoh sederhananya ketika anggota paduan suara menyanyikan lagu daerah, maka kostum yang digunakan akan disesuaikan dengan lagu yang dinyanyikan sebagai bentuk representasi lagu daerah tertentu. 5. Keras lemahnya volume suara. Bentuk keras lemahnya volume suara yang dinyanyikan disesuaikan dengan filosofi kata-kata yang terdapat dalam bagian lagu. Jika terdapat kata “megah” umumnya nada yang dinyanyikan oleh anggota paduan suara akan terdengar keras, sebaliknya jika terdapat kata “sembah” maka nada yang dinyanyikan akan terdengar lembut. Dari ragam pesan non-verbal yang terdapat dalam musik paduan suara, itu artinya ada kombinasi fungsi antara pesan suara dan pesan non-verbal yang tampak dalam musik paduan suara yang memenuhi fungsi umum pesan yang menurut Ruben dan Stewart 2013 terdiri dari saling menambahkan redundant, menegaskan duplicate, menggantikan substitute, melengkapi complementary, menambahkan penekanan emphasis, dan mengatur regulation. 0% found this document useful 0 votes47 views4 pagesDescriptionModul Olah VokalCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes47 views4 pagesDefinisi Paduan SuaraJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. 7+ Mudah Tidak Semua Lagu Dapat Dinyanyikan Dalam Paduan Suara Karena Terupdate. Lagu tanpa irama bukan merupakan musik c. Lagu merupakan bunyi yang memiliki nada tunggal b. 0 23 1 minute read. Hal ini agar semua jenis register suara manusia baik itu low mid dan high sopran,. Lagu merupakan bunyi yang memiliki nada tunggal b. Lagu tanpa irama bukan merupakan musik c. Jika dalam notasi lagu para penyanyi bertemu dengan tanda unisono, maka. Beberapa jenis utama dari alat musik adalah perkusi, keyboard,. Beberapa jenis utama dari alat musik adalah perkusi, keyboard,. Jakarta Paduan Suara Adalah Sebuah Bentuk Ansambel Yang Terdiri Dari Sekelompok Penyanyi Serta Pemain Yoveliaa Seni Sekolah Menengah Pertama Terjawab Tidak Semua Sederhananya Ketika Anggota Paduan Suara Menyanyikan Merupakan Bunyi Yang Memiliki Nada Tunggal Paduan Suara Mampu Menyanyikan Lagu/Materi Sesuai Dengan Notasi Yang Tertulis Pada Merupakan Bunyi Yang Memiliki Nada 23 1 Minute Semua Lagu Dapat Dinyanyikan Dalam Paduan Suara Karena Mereka Bisa Menampilkan Musik Paduan Suara Religius dari 7+ Mudah Tidak Semua Lagu Dapat Dinyanyikan Dalam Paduan Suara Karena Terupdate. Lagu merupakan bunyi yang memiliki nada tunggal b. Semua lagu dinyanyikan dengan cara acappella atau tanpa iringan musik, namun tetap bernda. Beberapa jenis utama dari alat musik adalah perkusi, keyboard,. Lagu Merupakan Bunyi Yang Memiliki Nada Tunggal. 0 23 1 Minute Read. Jadi, Mereka Bisa Menampilkan Musik Paduan Suara Religius Untuk. Kesimpulan dari 7+ Mudah Tidak Semua Lagu Dapat Dinyanyikan Dalam Paduan Suara Karena Terupdate. Jakarta - Unisono adalah salah satu teknik bernyanyi berkelompok dengan satu jenis suara, seperti menyanyikan melodi suatu secara unisono tidak dapat dilakukan dengan seorang diri, melainkan dilakukan oleh sekumpulan orang dengan satu suara. Partitur lagu tulisan untuk menyimpan nada-nada bernyanyi unisono hanya melodi pokoknya unisono diartikan sebagai teknik bernyanyi dengan satu jenis suara, secara dari modul Seni Budaya Kelas VII oleh Sarjiyem, MA. dan Frangky Kurniawan, Gr, menyanyi secara unisono adalah tahap awal sebelum menyanyi dengan paduan suara, di mana dalam paduan suara terdapat perpaduan suara 1, suara 2, maupun suara dapat menyanyi unisono, dibutuhkan kerjasama antar anggotanya, sehingga suara yang ditimbulkan dapat menjadi sebuah penerapan dalam paduan suara, misalnya, terdapat berbagai jenis suara tenor, sopran, alto dan bas. Jika dalam notasi lagu para penyanyi bertemu dengan "tanda unisono", maka yang terjadi adalah semua suara akan melebur menjadi satu atau dinyanyikan dengan daerah merupakan lagu yang dapat dinyanyikan dengan bernyanyi secara unisono. Contoh lagu daerah yang dapat dinyanyikan dengan unisono diantaranya, Pinang Muda dari Jambi, Gembang Suling dari Jawa Tengah, Tokecang dari Jawa Barat, Apuse dari Papua, dan masih banyak VokalMenyanyi secara vokal grup adalah cara bernyanyi dalam kelompok kecil, yang dalam praktiknya vokal grup dapat dilakukan secara bergantian antar anggota vokal bernyanyi solo maupun vokal grup dituntut untuk memiliki kemampuan vokal dan kemampuan berekspresi yang baik, sesuai dengan lagu yang dibawakan, agar menghasilkan suara dan penampilan yang vokal dapat dilakukan sambil menyanyi, dengan melakukan eksplorasi lagu model untuk mengenal konsep elemen musik, yang dinyanyikan dengan cara nada dasar secara berturut-turut naik dan yang perlu diperhatikan dalam bernyanyi adalah teknik vokal, diantaranyaArtikulasi adalah cara pengucapan baik dan jelasnya kata demi kata, agar pesan lagu dapat tersampaikan kepada adalah kaidah aturan baik dan benar pemenggalan kalimat, agar adalah tinggi rendahnya nada yang harus dijangkau dengan adalah suatu gejala bunyi yang dikembalikan dari suatu ruangan, atau gema yang timbul dari adanya ruangan berdinding menginterpretasikan karya musik, kita juga perlu memahami unsur-unsur musik irama, tanda tempo, dinamika, ekspresi, dan birama, tema lagu, klimaks lagu, sikap dan penjiwaan saat bernyanyi, serta pesan dan kesan yang disampaikan dari lagu Pernapasan Saat BernyanyiBerikut adalah beberapa teknik pernapasan dalam bernyanyi, yang dikelompokkan menjadi tiga yaituPernapasan Bahu Melakukan pernapasan dengan cara menarik napas sambil mengangkat bahu. Namun, kebanyakan cara seperti ini, tidak cukup baik untuk DadaPernapasan dilakukan degan cara membusungkan dada, bagian tubuh akan mengembang. Kelemahan dari teknik pernapasan dada adalah penyanyi akan mudah kehabisan napas. Jenis pernapasan ini sifatnya sangat pendek, dan tidak cocok digunakan dalam vokal, sehingga biasanya dipakai untuk menghasilkan nada-nada yang rendah PerutPernapasan dilakukan dengan mengembangkan perut, agar udara dari luar dapat masuk, sehingga dapat menghasilkan suara yang sangat keras. Sayangnya, udara yang masuk pun akan dengan cepat keluar, sehingga membuat paru-paru akan menjadi cepat lelah dan lemah. Pernapasan perut tidak begitu baik dan kurang efektif untuk digunakan dalam bernyanyi atau Pernapasan Diafragma Saat diafragma menegang, rongga perut akan menjadi longgar yang menyebabkan volume menjadi bertambah. Volume yang bertambah mengakibatkan tekanan berkurang, sehingga udara dari luar dapat masuk ke paru-paru. Dalam pernapasan diafragma udara akan ditarik sedalam mungkin untuk disimpan. Kemudian, udara yang telah disimpan dapat dikeluarkan secara perlahan-lahan dan teratur sewaktu bernyanyi. Teknik pernapasan diafragma adalah teknik pernapasan yang optimal dalam bernyanyi unisono, karena memungkinkan penyanyi untuk menghasilkan suara yang murni dengan napas yang panjang. Simak Video "Google Sediakan 11 Ribu Beasiswa Pelatihan untuk Bangun Talenta Digital" [GambasVideo 20detik] pal/pal

tidak semua lagu dapat dinyanyikan dalam paduan suara karena